Senin, 25 Juni 2012

PENGEMBANGAN METODE CENTRIFUGE PEMERIKSAAN DARAH TEBAL MALARIA

PENGEMBANGAN METODE CENTRIFUGE PEMERIKSAAN
DARAH TEBAL MALARIA
(Studi Kasus di Kabupaten Musi Rawas)
Muhamad Nizar1), Suharyo Hadisaputo2), Ludfi Santoso3)

ABSTRAK

Malaria, penyakit menular dengan karakteristik demam interminten disebabkan oleh P.falciparum, P.vivax, P.ovale dan P.malariae. Masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat terutama pada anak dan ibu hamil. Pada umumnya terdapat di negara yang terbentang antara 64° LU dan 32° LS, ketinggian 400 – 2800 meter di atas permukaan laut. Menurut WHO setiap tahunnya diperkirakan ada 250 juta dengan kematian hampir 880.000 kasus. Di Indonesia, hasil Riskesdas 2007 insiden malaria sekitar 2,85% dan pada tahun 2010 sekitar 10,6% keduanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Cakupan pemeriksaan mikroskopis terjadi penurunan dari 20% (2007) menjadi 0,6% (2010). Oleh karena itu, perlu dikembangkan metode centrifuge dengan tujuan menilai indikator sensitivitas, spesifisitas, PPV, NPV, akurasi dan analisis Kappa.
Desain penelitian, uji diagnostik dengan mengembangkan metode  centrifuge pemeriksaan darah malaria di Kabupaten Musi Rawas dari Februari sampai April 2011. Sampel diperoleh sebanyak 211 suspek malaria yang diambil secara seleksi kasus kegiatan PCD dan ACD di empat Puskesmas dengan AMI > 10‰. Sebagai kriteria inklusif, riwayat demam > 38°C, menggigil, berkeringat dingin, sakit kepala, mialgia dan splenomegali. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan tabel 2 x 2.
Proporsi penemuan plasmodium metode centrifuge sekitar 3,3%, mikroskopis sebagai gold standard sediaan darah tebal 3,3% dan sediaan darah tipis 1,9%. Nilai sensitivitas mendeteksi Plasmodium sediaan tebal sekitar 57,1%, sediaan tipis 100% dan jenis P.falciparum hanya 50%, serta jenis P.vivax mencapai 100%. Nilai spesifisitas sediaan tebal 98,5%, sediaan tipis 98,5% dan jenis P.falciparum 99% serta jenis P.vivax 99,5%. Nilai PPV pada sediaan tebal dan tipis, keduanya diperoleh 57,1%, untuk jenis P.falciparum 50% dan P.vivax 66,6%, nilai NPV pada sediaan tebal dan tipis, Plasmodium terdeteksi 98,5% dan 100%, sedangkan jenis P.falciparum dan P.vivax sekitar 99% dan 100%. Akurasi sediaan tebal dan tipis sekitar 0,97 dan 0,98 dan akurasi terhadap jenis P.falciparum dan P.vivax sekitar 0,98 dan 0,99. berdasarkan persetujuan Kappa, mendeteksi Plasmodium dengan sediaan tebal 55,8% dan sediaan tipis 72,1% dan jenis P.falciparum 49%, P.vivax 79,8%.
Simpulan dan Saran. Metode ini lebih tepat mendeteksi jenis P.vivax sebagai metode alternatif yang baik. Disarankan metode ini dapat diterapkan sebagai metode alternatif pemeriksaan darah malaria untuk evaluasi program eliminasi dan lebih efektif diterapkan di Puskesmas atau Rumah Sakit serta perlunya studi lanjut dengan beberapa gold standard, mikroskopis, RDT dan PCR terutama di daerah endmisitas tinggi yang berbeda.

Kata Kunci : Metode Centrifuge, mikroskopis, sensitivitas, spesifisitas.

1.    Dinkes Musi Rawas Sum-Sel
2.    FKM Universitas Dipenogoro Semarang
3.    FK Universitas Dipenogoro Semarang

KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA PEROKOK DI SMK 2 MEI BANDAR LAMPUNG


Herwan Dinata1, Lolita Sari2, Dina Dwi Nuryani2

ABSTRAK

Kebersihan gigi dan mulut dipengaruhi oleh deposit yang melekat pada permukaan gigi, deposit tersebut meliputi stain, plak, dan karang gigi (calculus). Faktor yang mempengaruhi pembentukan plak, stain dan calculus adalah rokok. Perokok di Indonesia tahun 2010 yang tercatat oleh Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencapai 34,7%. Tiga dari empat laki–laki di Indonesia merupakan perokok. Prevalensi tertinggi usia mulai merokok 15-19 tahun sebesar 43,3%. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perokok dengan  kebersihan gigi dan mulut.
Jenis penelitian analitik, rancangan penelitian cross sectional. Populasi penelitian siswa laki-laki di SMK 2 Mei Bandar Lampung berjumlah 1.502 orang, besarnya sampel menggunakan tabel Krejcie dan berjumlah 310 orang. Teknik pengambilan sampel proporsional stratified random sampling. Analisa data Chi Square dengan tingkat kemaknaan alpha 5%.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan katagori perokok dengan kebersihan gigi dan mulut (p value = 0,066). Tidak ada hubungan golongan perokok dengan  kebersihan gigi dan mulut (p value = 0,353). Pentingnya penerapan program anti merokok melalui konseling, program asuhan  kesehatan gigi dan mulut di sekolah melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), penelitian lebih lanjut terhadap faktor fisiologis, diet makanan, dan faktor lingkungan yang mempengaruhi kebersihan gigi dan mulut.

Kata kunci: Kebersihan gigi dan mulut, Perokok

1.    Politeknik Kesehatan Dep-Kes RI Tanjung Karang
2.    Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati B. Lampung

HUBUNGAN POLA ASUH IBU DALAM PRAKTIK PEMBERIAN MAKAN DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 6 – 24 BULAN DI KAMPUNG TEMPURAN KECAMATAN TRIMURJO TAHUN 2012


Marina Susanti1, Samino2, Dina Dwi Nuryani2
ABSTRAK


Prevalensi gizi kurang menurut BB/TB hasil Riskesdas tahun 2010 Provinsi Lampung adalah 13,6%. Di Kampung Tempuran lebih dari 50% ibu balita kurang tepat dalam praktik pemberian makan untuk anaknya. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya hubungan pola asuh Ibu dalam praktik pemberian makan dengan status gizi balita usia 6-24 bulan di Kampung Tempuran tahun 2012.
          Populasi penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai balita usia 6 – 24 bulan dan bertempat tinggal di Kampung Tempuran. Sampel berjumlah 80 orang (40 kasus dan 40 kontrol). Teknik pengambilan sampel kontrol dilakukan dengan purposive sampling. Penelitian ini bersifat analitik menggunakan pendekatan case control dan uji statistik chi square.   
Berdasarkan hasil penelitian, pola asuh ibu dalam praktik pemberian makan pada kelompok kasus 80% diberi makanan prelaktal,67,5% tidak diberi kolostrum, 90% tidak ASI Ekslusif, 72,5% pemberian MP-ASInya tidak baik, dan 82,5% penyapihannya tidak baik. Hasil perhitungan menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh ibu dalam praktik pemberian makan dengan status gizi balita usia 6-24 bulan (makanan prelaktal p-value = 0,000 dan OR = 18,857, praktik pemberian kolostrum p-value = 0,029 dan OR = 4,333, praktik pemberian ASI Eksklusif p-value = 0,000 dan OR = 11,000, praktik pemberian MP-ASI p-value = 0,000 dan OR = 23,727, praktik penyapihan p-value = 0,000 dan OR = 33,000). Disarankan agar penyuluhan yang lebih intensif tentang praktik pemberian makan pada balita bagi masyarakat, diaktifkannya kelas ibu dan pemanfaatan pekarangan rumah.


Kata kunci    : pola asuh ibu, praktik pemberian makan, status gizi


















1.    Puskesmas Trimurjo Lampung Tengah
2.    Fakultas Kesehatan Masyarakat Univ Malahayati B. Lampung

HUBUNGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI KB SUNTIK DENGAN GANGGUAN SIKLUS HAID DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RANTAU TIJANG KECAMATAN PUGUNG KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN 2012


Vera Lesmana1, Gunawan Irianto2, Khoidar Amirus3
ABSTRAK

Salah satu pasal dari Millenium Development Goals (MDGs) yang disepakati oleh 189 negara termasuk Indonesia adalah  peningkatan kesehatan  dan kesejahteraan ibu sepanjang siklus kehidupan ibu termasuk dalam hal kontrasepsi serta efek kontrasepsi termasuk gangguan siklus haid. Kontrasepsi suntik terdiri dari kontrasepsi suntik 3 bulan dan kontrasepsi suntik 1 bulan. Masalah yang sering timbul disebabkan kontrasepsi suntik 3 bulanan yaitu: amenore 60%, oligomenore 20%, dan polimenore 20%,sedangkan kontrasepsi suntik 1 bulanan 85% dari akseptor KB tidak mengalami masalah atau gangguan siklus haid. Tujuan penelitian adalah ingin mengetahui hubungan penggunaan alat kontrasepsi KB suntik dengan gangguan siklus haid
Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dengan. Populasi adalah semua akseptor KB Suntik  yang berjumlah  347 orang ibu dengan sampel 186 orang  diambil dengan tehnik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan  kuisioner yang  dianalisis dengan menggunakan uji chi square.
Hasil penelitian menemukan ada sebanyak 67 (36,0%) responden yang mengalami gangguan siklus haid dan terdapat jumlah pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan yaitu 140 (75,3%) responden, sedangkan responden dengan kontrasepsi suntik I bulan  adalah sebanyak 46 (24,7%) responden. Ada hubungan yang bermakna penggunaan alat kontrasepsi KB suntik dengan gangguan siklus haid di wilayah kerja Puskesmas Rantau Tijang Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus Tahun 2012 dengan p vallue : 0,005. Nilai  OR = 2,78 artinya yang menggunaan alat kontrasepsi KB suntik 3 bulan berpeluang 2,78 kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan siklus haid dibandingkan responden yang menggunaan alat kontrasepsi KB suntik 1 bulan. Saran yang dapat diberikan kepada akseptor KB suntik yang mengalami gangguan siklus haid agar menggunakan alat kontrasepsi KB non hormonal untuk menghindari efek samping yang berat.

Kata Kunci     : Kontrasepsi, Gangguan Haid, KB Suntik

1.    Puskesmas Rantau Tijang Kab. Tanggamus
2.    PSIK FK Universitas Malahayati Bandar Lampung
3.    FKM Universitas Malahayati Bandar Lampung


HUBUNGAN KONDISI SARANA SANITASI DASAR DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA PENENGAHAN KECAMATAN PENENGAHAN LAMPUNG SELATAN 2012.


Mahmud 1, Ahcmad Farich2, Fitri Ekasari 2

 ABSTRAK
      Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, karena angka kesakitannya tinggi dan berpotensi untuk menyebabkan kematian, terutama apabila pengelolaan penderitanya terlambat dilakukan, faktor penunjang terjadinya diare antara lain sanitasi lingkungan yang buruk. Di Desa Penengahan  jumlah kejadian diare balita tahun 2010 sebanyak 44 kasus (2,1%) dan tahun 2011 meningkat 2 kali lipat lebih besar, yaitu menjadi 97 kasus dengan IR 39,4 % dari target penemuan kasus diare pada balita di Desa Penengahan sebesar 64 kasus dengan IR 26,0 %. Tujuan penelitian diketahui hubungan kondisi sarana sanitasi dasar dengan kejadian diare pada balita  di desa Penengahan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan tahun 2012.
     Jenis penelitian ini Kualitatif dengan pendekatan Potong lintang (Cross sectional). Populasi adalah seluruh rumah yang mempunyai balita. Besar sampel sebanyak 57 balita. Teknik pengambilan sampel Simple Random Sampling. Analisis dengan menggunakan uji Chi Square.
     Hasil analisa univariat didapatkan penderita diare sebanyak 42 orang (73,7%) penderita dengan sarana air bersih yang tidak memenuhi syarat sebanyak 35 orang (52,6%), penderita dengan tempat pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sebanyak 30 orang (52,6%), penderita dengan tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat 38 (66,7%), penderita dengan SPAL yang tidak memenuhi syarat sebanyak 42 orang (73,7%). Sedangkan analisis bivariat menunjukan bahwa ada hubungan sarana air bersih (p value = 0,022; OR = 5,0), ada hubungan tempat pembuangan tinja (p value = 0,001; OR = 13,0), ada hubungan tempat pembuangan sampah (p value = 0,026; OR = 10,5) dan ada hubungan SPAL (p value = 0,001; OR = 9,0). Di sarankan penggerakan masyarakat dibidang sanitasi atau Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Kata Kunci     : Diare, balita, sanitasi dasar

1.    Puskesmas Penengahan Lampung Selatan
2.       Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Bandar Lampung

HUBUNGAN KEAKTIFAN KADER DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PERILAKU IBU MEMBAWA ANAK BALITA KE POSYANDU DI DESA BANDING AGUNG WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEDADA KABUPATEN PESAWARAN TAHUN 2012


Fatma Helna1, Khoidar Amirus2, Gunawan Irianto3

ABSTRAK


Program posyandu dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat, maka diharapkan masyarakat sendiri yang aktif membentuk, menyelenggarakan, memanfaatkan dan mengembangkan Posyandu sebaik-baiknya. Kelangsungan Posyandu tergantung dari partisipasi masyarakat itu sendiri. Kunjungan balita ke Posyandu di Desa Banding Agung juga belum memenuhi target yang ditentukan, yaitu 70%, dimana pada tahun 2009 nilai D/S 52,2%, tahun 2010 nilai D/S 55,7% dan pada pertengahan tahun 2011 bilai D/S baru mencapai 50,2%. Tujuan penelitian adalah diketahui hubungan keaktifan kader dan dukungan keluarga dengan perilaku ibu membawa anak balita ke Posyandu di Desa Banding Agung Wilayah Kerja Puskesmas Pedada Kabupaten Pesawaran Tahun 2012.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional. Populasi adalah ibu yang memiliki anak balita (usia 1-5 tahun) di Desa Banding Agung Wilayah Kerja Puskesmas Pedada Kabupaten Pesawaran sebanyak  78 orang. Sampel 78 responden. Analisis data yang digunakan yaitu uji Chi Square.

Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi responden dengan kader kurang aktif  yaitu sebanyak 43 responden (55,1%), mendukung  yaitu sebanyak 48 responden (61,5%), tidak aktif membawa balita ke posyandu yaitu sebanyak 47 responden (60,3%). Ada hubungan yang signifikan antara keaktifan kader (p value 0,016, OR 3,732), dukungan keluarga dengan perilaku ibu membawa anak ke Posyandu (p value 0,004, OR 6,469). Saran bagi petugas kesehatan agar meningkatkan pemberian informasi pada masyarakat melalui penyuluhan baik secara langsung maupun tidak langsung yang disesuaikan dengan kebijakan pemerintah.


Kata Kunci     : Keaktifan kader, dukungan keluarga, Posyandu Balita

1.    Puskesmas Pedada Kab Pesawaran Lampung
2.    Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Bandar Lampung
3.    PSIK FK Universitas Malahayati Bandar Lampung


FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETERLAMBATAN PENCARIAN PENGOBATAN PADA PENDERITA KUSTA DI PUSKESMAS PAYUNGREJO KABUPATEN LAMPUNG TENGAH


Lidya Eka Wijayanti¹, Zaenal Abidin², Marinah³

ABSTRAK

     Misi program pengendalian penyakit kusta adalah menyembuhkan dan meningkatkan kualitas hidup penderita kusta. Kualitas hidup seseorang tidak hanya diukur dari aspek kesehatannya saja, akan tetapi juga dari aspek-aspek lain seperti sosial, ekonomi, emosional, dan hak azasi, sehingga perlu bermitra dengan sektor terkait. Angka akibat kecacatan pada penyakit kusta masih tinggi, yaitu  sekitar 1.500 kasus cacat tingkat 2 ditemukan tiap tahunnya di Indonesia. Di Puskesmas Payungrejo angka kecacatan penderita pada tahun 2009 adalah 100% dari 9 kasus, pada tahun 2010 menjadi 80 % dari 12 kasus, dan pada tahun 2011 angka kecacatan penderita menjadi 34, 3 % dari 35 penderita.
     Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh penderita kusta yang berjumlah 35 penderita dengan tehnik sampel total population.
    Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan pada variabel pengetahuan( p value = 0,016),  sikap ( p value = 0,018), dan jarak tempuh  dengan keterlambatan pencarian pengobatan (p value = 0,038).  Penempatan petugas  kesehatan  di daerah yang sulit dijangkau, serta penyuluhan kepada penderita, keluarga, dan masyarakat oleh petugas kesehatan sangat efektif membantu mereka dalam mengenali tanda-tanda dini penyakit kusta,sehingga tidak terjadi keterlambatan dalam mencari pengobatan.

Kata Kunci     : Pencarian Pengobatan, Pengetahuan, Sikap, Jarak tempuh, Kusta


1) Puskesmas Payung rejo Kabupaten Lampung Tengah
2) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Malahayati Bandar lampung
3) Dinkes Kabupaten Lampung Tengah

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2012


Wulan Marniasih 1, Dessy Hermawan 2, Zaenal Abidin 2
               ABSTRAK   
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus campak. Penyakit campak di Indonesia sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang harus ditangani  karena kasus campak masih tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Natar prevalensi kasus campak di tahun 2010 sebesar 2 kasus meningkat pada tahun 2011 menjadi 44 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian campak di Wilayah Kerja Puskesmas Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2012.
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan rancangan case control. Populasi kasus adalah seluruh anak usia <15 tahun yang terkena campak pada tahun 2011. Populasi kontrol adalah anak <15 tahun yang tidak terkena campak. Besar sampel seluruhnya yaitu 60 orang yang terdiri dari 30 orang kasus dan 30 orang kontrol.Analisa data menggunakan chi square.
Hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan antara status imunisasi campak  dengan kejadian campak (p-value=0,020 OR=4,030), ada hubungan antara status gizi dengan kejadian campak (p-value=0,004 OR=5,5) dan ada hubungan antara kondisi ventilasi dengan kejadian campak (p-value=0,016 OR=4,571). Faktor yang tidak berhubungan dengan kejadian campak antara lain ASI Eksklusif, status sosial ekonomi dan kepadatan hunian rumah.
Untuk mencegah penyakit campak diharapkan bagi masyarakat terutama para ibu untuk mengimunisasi anak mereka dengan imunisasi campak, memperhatikan gizi anak dengan asupan makanan bergizi dan memenuhi kriteria rumah sehat. Bagi petugas kesehatan Puskesmas Natar agar lebih meningkatkan pelayanan imunisasi dan program sanitasi di Wilayah Kerja Puskesmas.


Kata kunci   : imunisasi campak, ASI, gizi, sosial ekonomi dan kepadatan hunian


1.       Pusktesmas Natar Lampung Selatan
2.       Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Minggu, 24 Juni 2012

STUDI FAUNA VEKTOR MALARIA DI DAERAH ENDEMIS MALARIA DESA WAY MULI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Devita Febriani Putri


ABSTRAK
Desa Way Muli, Lampung Selatan, yang terletak di Pulau Sumatra di Provinsi Lampung Indonesia merupakan daerah endemis malaria. Pada tahun 2009 ditemukan 1368 insiden malaria dengan Annual Malaria Index (AMI) sebesar 48,7 ‰  dan Presentasi sediaan darah positif (SPR) sebesar 29,6 %. Wilayah Desa Way Muli dari segi geografisnya merupakan dengan kondisi daerah pesisir pantai, yang merupakan tempat perindukan yang sangat tepat untuk berkembang biaknya beberapa spesies nyamuk vektor Anopheles.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui spesies nyamuk Anopheles yang menjadi vektor dalam transmisi dan penyebaran malaria, serta kondisi ekologis tempat – tempat perindukannya di Desa Waymuli, Lampung Selatan.Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan pada bulan Juli – September 2011. Penelitian dilakukan di daerah endemik malariadesa Way Muli, Kabupaten Lampung Selatan.  Sampel penelitian berupa nyamuk vektor yang ditangkap, di identifikasi di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. Pengamatan tempat perindukan  ditentukan berdasarkan ada tidaknya larva Anopheles sp. pada tempat-tempat yang berpotensi sebagai tempat perindukan nyamuk vektor. Pengamatan ekologi  meliputi pengukuran suhu air, pH Air, salinitas air, oksigen terlarut (DO), dan ada tidaknya predator.
Hasil penangkapan nyamuk dikelompokkan didalam rumah, diluar rumah, hinggap di kandang dan sekitarnya (semak-semak dan tanaman yang tumbuh disekitar kandang). Jumlah nyamuk Anopheles yang berhasil tertangkap di dua titik lokasi pengamatan desa Way Muli berjumlah 90 ekor yang terdiri dari 3 jenis nyamuk Anopheles yaitu : Anophelessundaicus, An. aconitus, dan An. vagus. Spesies An. sundaicus paling mendominasi di desa Way Muli, dengan persentase 86.6%, kepadatan relatif 0.36, serta memiliki dua puncak aktivitas menggigit yaitu didalam rumah pukul 23.00 – 00.00 WIB dan diluar rumah pukul 03.00 – 04.00 WIB. Faktor – faktor ekologi  terutma predator pada tempat perindukan nyamuk Anopheles mempengaruhi kehidupan larva nyamuk Anopheles.

Kata Kunci : Vektor Malaria, Anopheles, Tempat Perindukan
1.    Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Lampung

KARAKTERISASI DAN APLIKASI ANTIBODI MONOKLONAL WDSSB5 UNTUK DETEKSI VIRUS DENGUE PADA SEL C6/36 DENGAN METODE IMUNOSITOKIMIA

Nurminha1, Sitti Rahmah Umniyati2, Wayan T. Artama3


 ABSTRAK
Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus Dengue yang terdiri dari 4 serotype Dengue 1, 2, 3 dan 4. Manifestasi klinis infeksi virus Dengue pada manusia sangat bervariasi mulai dari asimtomatik sampai berat. Isolasi virus Dengue menggunakan kultur sel C6/36 merupakan gold standar untuk menegakkan diagnosis pasti infeksi virus Dengue. Team Dengue UGM telah berhasil memproduksi antibodi monoklonal  terhadap virus Dengue-3 salah satunya yang berasal dari sel hibrid WDSSB5. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan karakterisasi dan mengaplikasi antibodi monoklonal WDSSB5 sebagai antibodi primer untuk mendeteksi virus Dengue dari serum pasien yang positif mengandung virus Dengue yang diisolasi pada sel C6/36 (C6/36 cell line) dengan metode imunositokimia streptavidin biotin peroxidase complex (ISBPC).
Desain penelitian ini eksperimental. Pada penelitian ini propagasi sel hibridoma WDSSB5 dilakukan secara in vitro dan in vivo. Karakterisasi yang dilakukan meliputi uji klasifikasi antibodi monoklonal WDSSB5, pemeriksaan kadar protein asites WDSSB5, uji sensitivitas dan spesifisitas metode imunositokimia SBPC menggunakan antibodi primer WDSSB5 serta uji spesifitas antibodi monoklonal terhadap antigen Dengue dengan Dot blot. Virus Dengue  yang berasal dari serum pasien yang positif mengandung virus Dengue diinokulasi pada sel C6/36. Deteksi antigen virus Dengue dilakukan dengan menggunakan metode imunositokimia SBPC dengan antibodi monoklonal WDSSB5 sebagai antibodi primer. Kontrol positif digunakan sel C6/36 yang diinfeksi virus Dengue 1, 2, 3, 4 (prototipe) dan diinokulasi pada sel C6/36, sedangkan kontrol negatif adalah sel C6/36 yang tidak diinfeksi virus Dengue.
Hasil penelitian didapatkan antibodi monoklonal WDSSB5 spesifik terhadap virus Dengue. Antibodi monoklonal WDSSB5 termasuk klas IgG dan sub klas IgG1. Kadar  antibodi monoklonal WDSSB5 terkecil yang dapat  mendeteksi antigen Dengue pada sel C6/36  adalah 2,2 µg/µl. Antibodi monoklonal WDSSB5 dapat diaplikasikan untuk mendeteksi virus Dengue yang berasal dari serum pasien yang positif mengandung virus Dengue yang diisolasi pada sel C6/36 dengan metode imunositokimia SPBC.

Kata kunci: Dengue , Imunisitokimia SBPC, WDSSB5, Sel C6/36.
1.    Politeknik Kesehatan Kemenkes Tanjungkarang Jurusan Analis Kesehatan;
2.    Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada;
3.    Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada

HUBUNGAN FAKTOR SPESIFIK MATERNAL DENGAN ANGKA KEJADIAN PREEKLAMSIA/EKLAMSIA PADA IBU BERSALIN DI RUANG KEBIDANAN RSUD DR. A.DADI TJOKRODIPO KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2011

Mira Puspita1 , Dessy Hermawan2 dan Khoidar Amirus2


ABSTRAK
Faktor risiko preeklamsia meliputi kondisi medis yang berpotensi menyebabkan kelainan mikrovaskular, seperti diabetes melitus, hipertensi kronis dan kelainan vaskular serta jaringan ikat, sindrom antibodi fosfolipid dan nefropati. Faktor risiko lain berhubungan dengan kehamilan itu sendiri atau dapat spesifik terhadap ibu atau ayah dari janin. Tujuan penelitian diketahui hubungan faktor spesifik maternal dengan angka kejadian preeklamsia/eklamsia pada ibu bersalin.

Jenis penelitian analitik dengan rancangan case control. Populasi penelitian adalah ibu yang bersalin dengan preeklamsia/eklamsia maupun normal di Ruang Kebidanan RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Kota Bandar Lampung antara 1 Januari 2011 – 31 Desember 2011, dengan jumlah sampel sebanyak 247 orang. Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji Chi-square (2).

Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan primigravida (p-value= 0,000 dan OR= 2,703), usia (p-value= 0,001 dan OR = 2,348), nullipara (p-value= 0,001 dan OR = 2,436), preeklamsia pada kehamilan sebelumnya (p-value= 0,000 dan OR = 2,608) dan kondisi medis khusus (p-value= 0,002 dan OR= 2,268) dengan angka kejadian preeklamsia/eklamsia pada ibu bersalin di Ruang Kebidanan RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Kota Bandar Lampung.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bagi pelayanan kesehatan untuk meningkatkan pelayanan ANC secara teratur untuk mendeteksi penyulit persalinan, sehingga dapat menurunkan kecemasan dalam menghadapi persalinan.
Kata Kunci    : Faktor Spesifik Maternal, Preeklamsia/Eklamsia
1.    RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Kota Bandar Lampung
2.    Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Bandar Lampung

HUBUNGAN LINGKUNGAN DAN RUMAH SEHAT DENGAN KEJADIAN DIARE DI KAMPUNG TERBANGGI BESAR KECAMATAN TERBANGGI BESAR KABUPATEN LAMPUNG TENGAH TAHUN 2011.

ABSTRAK


Achmad Farich1
Diare pada balita merupakan masalah penting karena dapat menyebabkan kematian. Diare pada balita dapat disebabkan oleh berbagai infeksi baik infeksi enteral maupun parenteral serta faktor lainnya.. Tujuan penelitian diketahuinya hubungan lingkungan dan rumah sehat dengan kejadian diare Di Kampung Terbanggi Besar Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah TAHUN 2011.
Jenis penelitian ini adalah analitik dengan rancangan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang melakukan kunjungan di Puskesmas Kotabumi II Kabupaten Lampung Utara tahun 2010 dari bulan Januari-Desember 2010 sebanyak 158 orang, dengan jumlah sampel 158 orang. Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji Chi-square (2).
Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan rumah sehat (p-value = 0,011) dan lingkungan (p-value = 0,015) dengan kejadian diare Di Kampung Terbanggi Besar Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah TAHUN 2011.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan Di Kampung Terbanggi Besar Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah khususnya yang terkait dengan faktor-faktor yang berhubungan kejadian penyakit diare.

Kata Kunci    : Rumah, Lingkungan, Diare
1.    FKM Universitas Malahayati Bandar Lampung

FAKTOR PENULARAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS IMMUNOGLOBULIN M ANTI VIRUS DENGUE (Studi di Kabupaten Cirebon Jawa Barat)

Lukman Hakim1, Budi Santoso2, Asep Jajang K2


ABSTRAK
Angka kesakitan demam berdarah dengue masih tinggi karena faktor penularannya belum banyak diketahui, sehingga pemberantasan masih berdasarkan pada perkembangan kasus. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi tentang faktor yang berhubungan dengan status IgM anti virus dengue.

Penelitian dilaksanakan di desa Klayan Kecamatan Gunungjati kabupaten Cirebon dengan desain cross sectional. Variabel penelitian meliputi 10 variabel independent yaitu 5 variabel lingkungan dan 5 variabel pejamu dengan variable dependent status IgM anti virus dengue. Data yang dihasilkan dianalisis menggunakan bivariat dan multivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel independent dengan dependent.
Dari 200 responden yang diteliti, diketahui 56% tinggal di rumah padat penghuni, 85% di rumah dengan pencahayaan tidak optimal, 41,5% di rumah positif kontainer air tidak tertutup, 96% di rumah dengan suhu udara optimal, 62% di rumah dengan kelembaban udara optimal, dan 23,5% di rumah dengan positif larva nyamuk Aedes spp. Responden dengan aktivitas di luar rumah kategori rendah sebesar 51,5%, status gizi tidak normal sebesar 34%, kelompok umur <5 tahun sebesar 10,5%, pernah sakit DBD sebesar 16%, dan positif IgM anti virus den mmmmubhbgue sebesar 17,5%. Analisis bivariat menunjukkan 3 variabel independent signifikan berhubungan dengan variabel dependent, sedangkan analisis multivariat menghasilkan 2 variabel signifikan berhubungan dengan variabel dependent.
Disimpulkan, variabel yang terbukti berhubungan dengan status IgM anti virus dengue adalah aktivitas penghuni di luar rumah, status gizi dan kelompok umur. Sedangkan pendugaan peluang terjadinya IgM anti virus dengue bisa dihitung berdasarkan nilai variabel aktivitas penghuni di luar rumah dan status gizi.

Kata kunci : IgM anti virus dengue, kepadatan hunian, gizi, umur.
1.    Loka Litbang P2B2 Ciamis, West Java, Indonesia
2.    National Institute of Health Research and Development (NIHRD) of Ministry of Health Republic of Indonesia.

FAKTOR RESIKO KEJADIAN MALARIA DESA SIDODADI PADANG CERMIN PESAWARAN 2011

Samino1 dan Sofiyah Suryani2

ABSTRAK
Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok resiko tinggi, yaitu bayi, anak balita, ibu hamil. Faktor resiko terjadinya malaria diantaranya pemakaian kelambu, pemasangan kasa pada ventilasi rumah, kebiasaan keluar rumah pada malam hari, penggunaan baju panjang, dan kebiasaan penggunaan obat nyamuk oles. Kejadian kasus malaria di Kabupaten Pesawaran masih cukup tinggi. Tahun 2008=2.837 jiwa, 2009=11.761 jiwa.  Sedangkan 2009 di wilayah kerja Puskesmas Hanura 812 kasus.

Penelitian obsevasional, dengan rancangan Case Control. Sampel penelitian 44 kasus dan 44 kontrol. Uji yang digunakan Chi square dan Regresi Logistik. Untuk melihat hubungan variabel menggunakan α=0.05.

Hasil penelitian menemukan adanya hubungan antara pemakaian kelambu (p=0.005, OR=3.9),  pemasangan kasa pada ventilasi rumah (p=0.000, OR=6.4), kebiasaan keluar rumah pada malam hari (p=0.005, OR=3.8), kebiasaan menggunaan baju panjang (p=0.005, OR=3.8), kebiasaan menggunakan obat nyamuk oles (p=0,000, OR=7.3) dengan kejadian malaria. Uji Logistik menemukan bahwa penggunaan kelambu saat tidur merupakan faktor resiko paling dominan (p=0.003 dengan Exp(B)=0,166). Berdasarkan penemuan tersebut disarankan masyarakat menggunakan kelambu saat tidur, memasang kasa pada ventilasi rumah, membatasi keluar rumah pada malam hari, menggunakan pakaian panjang, dan menggunakan obat nyamuk oles.

Kata kunci : Malaria, kelambu, kasa, keluar rumah malam hari dan baju panjang
1.    FKM Universitas Malahayati Bandarlampung.
2.    Laboratorium Kesehatan Terpadu Universitas Malahayati B.Lampung

ANALISIS SEKUEN NUKLEOTIDA E/NS1 GENE JUNCTION VIRUS DENGUE SEROTIPE 2 ASAL DKI JAKARTA, INDONESIA

Nurhaida Widiani1, Tri Wibawa2, Nastiti Wijayanti3

ABSTRAK
Demam dengue atau demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan di daerah tropis dan subtropis.  Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue (genus flavivirus, famili flaviviridae).  Vektor pembawa virus dengue adalah nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.  Genom virus dengue tersusun atas tiga protein struktural (protein nukleokapsid, protein envelope, dan protein pre-membran) dan tujuh protein nonstruktural (NS1, NS2a, NS2b, NS3, NS4a, NS4b, dan NS5).  Usaha untuk mengontrol penyakit ini tergantung pada pemahaman patogenesis virus dengue.  Tetapi pengetahuan mengenai patogenesis virus dengue masih belum banyak diketahui karena belum adanya model yang cocok baik in vitro maupun in vivo. Sehingga dilakukan analisis sekuen nukleotida E/NS1 gene junction virus dengue tipe 2 asal DKI Jakarta, Indonesia untuk mengetahui hubungan filogeni virus dengue yang beredar saat ini.  Sekuen nukleotida (240 bp) dari E/NS1 gene junction merupakan segmen yang biasa digunakan untuk analisis perbandingan sekuen. Hasil analisis menunjukkan strain virus yang diteliti berkerabat dengan virus DEN-2 asal Asia yaitu Myanmar, Pakistan, Sri Lanka, Brunei, dan Malaysia.  Tetapi kelima virus ini berada dalam kelompok yang berbeda dengan virus asal Amerika latin (Brazil).  Virus Dengue dari Asia diduga lebih virulen dibandingkan virus dengue dari daerah lain. Sehingga kemungkinan terjadi peningkatan kasus DBD di Indonesia. 

Kata kunci: Virus Dengue, E/NS1 gene junction, serotype, filogeni, DEN-2   
1.    Jurusan Biologi, Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung
2.    Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
3.    Laboratorium Fisiologi Hewan, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ANALISIS FAKTOR RESIKO TERJADINYA RESISTENSI OBAT ANTI TUBERKULOSIS PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI KOTA BANDARLAMPUNG TAHUN 2011.

Khoidar Amirus 1, Suwito 1, Ferizal Masra 2
ABSTRAK
Terjadinya resistensi merupakan akibat ketahanan mikroba terhadap antibiotik tertentu yang dapat berupa resistensi alamiah, resistensi kromosomal, resistensi ekstrakromosomal dan resistensi silang. Pengobatan penyakit tuberkulosis banyak menggunakan antibiotik sehingga penderita tuberkulosis beresiko terjadi resistensi. Faktor terjadinya resistensi pada dasarnya merupakan suatu fenomena buatan manusia (man-made phenomenon) sebagai akibat pengobatan yang tidak adekuat. Penelitian ini bertujuan diketahuinya faktor resiko yang mempengaruhi kejadian resistensi obat anti tuberculosis (OAT) pada penderita tuberkulosis paru di Kota Bandarlampung.
Penelitian ini merupakan jenis analitik observasional menggunakan rancangan case-control dengan variabel independen riwayat pengobatan, kepatuhan, pemantauan laboratorium, penyakit penyerta dan tempat pelayanan. Populasi studi adalah semua penderita tuberkulosis paru yang telah dinyatakan resisten dan sembuh dengan jumlah sampel 94 responden (47 kasus dan 47 kontrol). Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi dokumentasi kemudian data dianalisis dengan uji statistik chi-square dan regresi logistik ganda model prediksi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan riwayat pengobatan (p = 0.00) ada hubungan riwayat kepatuhan (p = 0.00), ada hubungan riwayat pemantauan laboratorium (p = 0.00), tidak ada hubungan riwayat penyakit penyerta (p = 0.655), tidak ada hubungan riwayat tempat pelayanan (p = 0.171) dengan terjadinya resistensi OAT. Faktor resiko yang paling utama berpengaruh adalah riwayat pengobatan (OR-Adjasted 47.762) dan kedua riwayat pemantauan laboratorium (OR-Adjasted 5.326) dengan nilai probabilitas 94.9 %. Disimpulkan bahwa riwayat pengobatan dan pemantauan laboratorium merupakan faktor resiko terjadinya resistensi OAT di Kota Bandarlampung. Sehingga disarankan penatalaksanaan tuberkulosis harus sesuai dengan guideline seperti dosis, regimen, masa pengobatan yang tepat dan menerapkan strategi DOTS kemudian penyediaan laboratorium pemeriksaan biakan dan uji kepekaan untuk memantau kemajuan pengobatan serta diperlukan dukungan keluarga, tokoh masyarakat dan pemerintah.

Kata Kunci    : Resistensi OAT, Pengobatan, Pemantauan Laboratorium
1.    Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati B. Lampung
2.    Politeknik Kesehatan Dep-Kes RI Tanjung Karang